Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
16/10/2026
SMARTLIVE

FTIK UIN Malang Bahas Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi untuk Pendidikan Karakter

rifamahmudah
  • Oktober 6, 2026
  • 5 min read
FTIK UIN Malang Bahas Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi untuk Pendidikan Karakter

SMARTLIVE – Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, kepedulian terhadap sesama, dan tanggung jawab dalam menjaga lingkungan. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pendekatan pendidikan perlu terus dikembangkan agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Semangat tersebut menjadi landasan penyelenggaraan Seminar Nasional bertajuk “Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi sebagai Fondasi Pendidikan Karakter” yang digelar Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada Selasa (6/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Gedung Microteaching tersebut menghadirkan Dr. H. Mastuki, M.Ag., dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta, sebagai narasumber. Seminar ini diikuti oleh seluruh dosen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) FTIK serta mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI). Forum tersebut menjadi wadah untuk memperluas wawasan mengenai pentingnya membangun sistem pendidikan yang tidak hanya menekankan penguasaan pengetahuan, tetapi juga memperhatikan pembentukan karakter, hubungan antar manusia, dan kesadaran ekologis.

Kegiatan dibuka oleh Dekan FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Muhammad Walid, M.A. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa pendidikan perlu dipahami secara lebih menyeluruh. Keberhasilan pendidikan tidak seharusnya hanya diukur berdasarkan nilai akademik atau kemampuan peserta didik dalam menguasai materi pelajaran. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu membentuk pribadi yang berakhlak, memiliki empati, serta memahami tanggung jawabnya terhadap lingkungan.

Menurutnya, kurikulum berbasis cinta menjadi salah satu pendekatan penting untuk menghadirkan pendidikan yang lebih manusiawi. Konsep cinta dalam dunia pendidikan bukan sekadar gagasan atau ungkapan, melainkan nilai yang harus diwujudkan melalui hubungan nyata antara pendidik dan peserta didik. Prof. Muhammad Walid menekankan bahwa pendidik perlu menumbuhkan rasa cinta yang mendalam kepada anak didik.

Baca Juga:  Pelatihan UMKM Baby Food untuk Tingkatkan Pengetahuan Pembuatan MP-ASI

Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya berjalan berdasarkan keinginan guru atau dosen, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan, karakteristik, serta perkembangan peserta didik. Pendekatan tersebut menempatkan peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi, perasaan, kebutuhan, dan latar belakang yang beragam. Oleh karena itu, pendidik dituntut untuk memahami kondisi mereka sebelum menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan. Dalam praktiknya, guru tidak cukup hanya menyampaikan materi, memberikan tugas, dan melakukan penilaian. Pendidik juga perlu membangun komunikasi yang baik, memberikan keteladanan, serta menciptakan suasana belajar yang mendukung perkembangan peserta didik secara optimal. Melalui pendekatan yang berlandaskan cinta, proses pendidikan diharapkan mampu menumbuhkan rasa aman, saling menghargai, dan semangat belajar.

Nilai-nilai tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun pendidikan karakter. Karakter tidak cukup dibentuk melalui penjelasan teori atau nasihat di dalam kelas, tetapi perlu ditanamkan melalui kebiasaan, interaksi, dan pengalaman nyata. Ketika peserta didik merasakan kepedulian dan penghargaan dari pendidiknya, nilai-nilai tersebut diharapkan dapat tumbuh dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep kurikulum berbasis cinta juga memiliki keterkaitan dengan integrasi Ulul Albab yang menjadi bagian penting dari visi pendidikan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Melalui pendekatan ini, pendidikan diarahkan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual yang berjalan seimbang dengan kedalaman spiritual dan kematangan moral. Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu menggunakan pengetahuannya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain membahas kurikulum berbasis cinta, seminar ini mengangkat ekoteologi sebagai unsur penting dalam pembentukan karakter. Ekoteologi merupakan perspektif yang menghubungkan pemahaman tentang lingkungan dengan nilai-nilai keagamaan dan spiritualitas. Melalui sudut pandang ini, alam tidak hanya diperlakukan sebagai sumber daya untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan yang harus dipelihara dan dijaga keberlangsungannya. Pembahasan ekoteologi menjadi relevan di tengah berbagai tantangan lingkungan yang membutuhkan perhatian bersama. Pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan kesadaran ekologis sejak dini agar peserta didik memahami pentingnya menjaga kebersihan, mengurangi perilaku merusak lingkungan, serta menggunakan sumber daya alam secara bertanggung jawab.

Baca Juga:  Ingin Genjot Perekonomian Desa Plandi, Tim KKN Filkom UB Kembangkan Internet Sehat

Dengan memasukkan nilai-nilai ekologis ke dalam proses pendidikan, pembentukan karakter dapat mencakup dimensi yang lebih luas. Peserta didik tidak hanya diajak membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia, tetapi juga memahami tanggung jawabnya terhadap alam dan kehidupan di sekitarnya. Kesadaran tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi perilaku nyata yang mendukung kelestarian lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Muhammad Walid juga menyoroti perubahan kurikulum yang terus berlangsung dalam sistem pendidikan Indonesia. Ia berharap kurikulum berbasis cinta dapat menjadi momentum untuk membangun arah pendidikan yang lebih konsisten dan berkelanjutan. Menurutnya, perubahan kurikulum seharusnya tidak hanya menghasilkan pergantian dokumen, istilah, maupun perangkat pembelajaran. Hal yang lebih penting adalah memastikan bahwa perubahan tersebut benar-benar memberikan dampak terhadap pelaksanaan pendidikan dan pembentukan karakter peserta didik.

Ia berharap kurikulum berbasis cinta dapat menjadi pijakan yang kokoh dalam sistem pendidikan Indonesia, sehingga tidak sekadar diterapkan dalam jangka pendek, tetapi mampu memberikan kontribusi berkelanjutan bagi peningkatan kualitas pendidikan. Kehadiran dosen PPPK FTIK dan mahasiswa PAI dalam seminar ini juga membuka ruang pertukaran gagasan antara pendidik dan calon pendidik. Bagi mahasiswa, pembahasan mengenai kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi memberikan pemahaman bahwa profesi guru membutuhkan lebih dari sekadar penguasaan materi pelajaran. Seorang pendidik juga harus memiliki empati, kepekaan sosial, tanggung jawab moral, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Sementara itu, bagi para dosen, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali praktik pembelajaran sekaligus memperkuat pemahaman terhadap pendekatan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Diskusi akademik semacam ini diharapkan dapat mendorong lahirnya gagasan dan praktik pembelajaran yang lebih adaptif, inklusif, serta berorientasi pada pembentukan karakter.

Baca Juga:  UIN Malang Apresiasi Kebijakan Kemenag Perkuat Tata Kelola dan Kesejahteraan Guru

Melalui Seminar Nasional “Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi sebagai Fondasi Pendidikan Karakter”, FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan pentingnya pendidikan yang mengintegrasikan pengetahuan, nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan kepedulian ekologis. Pendidikan masa depan tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual. Diperlukan hati yang mampu menumbuhkan cinta, pikiran yang terbuka untuk memahami perbedaan, serta tindakan nyata untuk menjaga kehidupan.

Kurikulum berbasis cinta mendorong pendidik menghadirkan pembelajaran yang lebih manusiawi, sedangkan ekoteologi mengingatkan pentingnya tanggung jawab manusia terhadap alam. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai tersebut bersama semangat Ulul Albab, pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, peduli terhadap sesama, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Seminar ini pun menjadi bagian dari komitmen FTIK UIN Malang untuk terus mengembangkan tradisi akademik yang tidak hanya menjawab perubahan zaman, tetapi juga menjaga nilai-nilai mendasar dalam dunia pendidikan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *