NewDaftar / Login NetwriterDAFTAR
03/10/2022
NEWSANTARA

Polisi Virtual Untuk Meminimalisasi Konten Radikal

  • April 5, 2021
  • 2 min read
Polisi Virtual Untuk Meminimalisasi Konten Radikal

NEWSANTARA, malangpost.id – Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Rusdi Hartono menyebutkan, Polri akan membentuk polisi virtual, seperti dilansir dari kompas.com keberadaan polisi virtual salah satunya bertujuan untuk meminimalisasi konten yang memuat paham radikal di internet.

Pasalnya, kata dia, internet kini kerap dijadikan media untuk menyebarkan paham radikal.

“Polisi ingin mencoba mengedukasi masyarakat, juga mengingatkan masyarakat agar masyarakat tidak jadi korban dan juga tidak menjadi pelaku kejahatan,” kata Rusdi dalam sebuah diskusi daring, Minggu (4/4/2021).

Rusdi mengatakan, melalui polisi virtual, negara berupaya memberikan informasi dunia maya yang resmi dan tepercaya.

Namun, ternyata keberadaan polisi virtual menemui tantangan lantaran masih ada pihak yang tak setuju. Sebagian pihak beranggapan bahwa polisi virtual mengancam kebebasan warga negara berpendapat lantaran masuk ke ranah privat. 

“Ketika polisi virtual ini masuk, berkegiatan, ternyata ada pihak-pihak tertentu yang seakan-akan tidak setuju, menganggap bahwa polisi virtual terlalu ke ruang privat warga negara, akan memberangus daripada kebebasan warga negara untuk berpendapat,” ujar Rusdi.

Menyikapi hal itu, kata Rusdi, pihaknya mengaku akan tetap berupaya melindungi masyarakat dengan mencegah penyebaran informasi palsu dan tidak tepercaya. Hal ini demi mencegah kebingungan dan ketakutan publik.

Rusdi juga mengimbau masyarakat pandai-pandai memilah konten di internet. Apalagi, pengguna internet di Indonesia saat ini sangat besar, mencapai 73,3 persen dari populasi. Jumlah ini setara dengan 202 juta penduduk. Jika masyarakat tak selektif terhadap informasi, dikhawatirkan akan terjerumus pada konten-konten yang menyesatkan.

“Begitu banyaknya ini tentunya membutuhkan masyrakat yang harus bisa memilih dan memilah konten-konten mana itu yang benar, konten-konten mana yang menyesatkan,” kata Rusdi.

“Jika tentunya masyarakat hanya pintar memilih, dia tidak akan tersesat. Tapi, lain halnya jika masyarakat tidak mampu memilah sehingga dia pun akan disesatkan dengan konten-konten yang dia baca, dia dengar, dan dia lihat di media sosial,” tuturnya.

Sebelumnya, dalam kesempatan yang berbeda, Rusdi mengatakan bahwa aksi lonewolf yang dilakukan terduga teroris yang menyerang Mabes Polri, ZA, dipelajari melalui internet.

Menurut Rusdi, saat ini di internet dan media sosial mudah sekali menemukan hal-hal seperti itu. (Cal)