Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
12/10/2026
CITILIVE

Usia Jawa Timur 81 Tahun, dari Jejak Majapahit hingga Kota Lama: Warisan Sejarah Mana yang Masih Terjaga?

Shinta lubis
  • Oktober 12, 2026
  • 7 min read
Usia Jawa Timur 81 Tahun, dari Jejak Majapahit hingga Kota Lama: Warisan Sejarah Mana yang Masih Terjaga?

CITILIVE – Jawa Timur tidak hanya menyimpan cerita tentang kerajaan besar, tetapi juga jejak manusia purba, perjuangan kemerdekaan, perkembangan kota, hingga tradisi masyarakat yang bertahan lintas generasi.

Dari kawasan bekas ibu kota Majapahit di Mojokerto, kompleks candi di Blitar, bangunan bersejarah di Surabaya, hingga keraton di ujung timur Pulau Madura, setiap daerah memiliki peninggalan yang merekam perjalanan sejarahnya sendiri.

Memasuki usia ke-81 Provinsi Jawa Timur pada 12 Oktober 2026, kekayaan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah bukan hanya tentang membangun masa depan. Ada warisan masa lalu yang juga perlu dirawat agar tetap bisa dipelajari dan dinikmati masyarakat.

Namun, di tengah perkembangan kota dan perubahan zaman, muncul pertanyaan penting: seberapa jauh warisan sejarah Jawa Timur masih terjaga, dan apakah generasi sekarang benar-benar memiliki kesempatan untuk mengenalnya?

Ilustrasi Kerajaan Majapahit

Mojokerto, Menyusuri Jejak Kejayaan Majapahit

Salah satu kawasan yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah Jawa Timur adalah Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Kawasan ini dikenal sebagai situs bersejarah yang berkaitan dengan bekas pusat Kerajaan Majapahit. Berbagai peninggalan berupa candi, struktur bangunan, kolam, dan artefak menjadi petunjuk untuk memahami kehidupan masyarakat pada masa kerajaan tersebut.

Candi Brahu menjadi salah satu peninggalan yang dapat dijumpai di kawasan Trowulan. Keberadaannya memperlihatkan jejak arsitektur masa lampau sekaligus menjadi bagian dari kekayaan arkeologi Jawa Timur. Kawasan Trowulan sendiri menyimpan berbagai tinggalan yang membantu peneliti merekonstruksi perkembangan peradaban Majapahit.

Keberadaan situs seperti Trowulan membuat sejarah tidak hanya bergantung pada cerita tertulis. Peninggalan fisik dapat menjadi sumber pembelajaran tentang tata ruang, teknologi bangunan, kehidupan sosial, dan kebudayaan masyarakat pada masa lalu.

Tantangannya adalah memastikan setiap situs memperoleh perlindungan dan perawatan yang sesuai. Pengembangan wisata juga perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga keaslian dan nilai sejarah peninggalan.

Candi Penataran

Blitar, Kompleks Candi yang Menyimpan Cerita Lintas Kerajaan

Beranjak ke Kabupaten Blitar, masyarakat dapat menemukan Kompleks Candi Penataran, salah satu kompleks candi penting di Jawa Timur.

Candi yang berada di Kecamatan Nglegok ini memiliki latar belakang Hindu dan berkaitan dengan perkembangan kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, mulai dari era Kediri hingga Majapahit.

Baca Juga:  Ibadah Jumat Agung di GKI Bromo Malang, Jemaat Renungkan Wafatnya Yesus Kristus di Salib

Relief dan struktur bangunannya menyimpan informasi mengenai seni, kepercayaan, serta kebudayaan masyarakat pada masa lampau. Kompleks tersebut juga memperlihatkan bagaimana bangunan keagamaan memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat pada zamannya.

Bagi generasi muda, Candi Penataran dapat menjadi ruang belajar untuk memahami sejarah melalui peninggalan yang masih dapat diamati secara langsung.

Di sinilah pelestarian menjadi penting. Candi bukan sekadar latar untuk berfoto atau destinasi wisata, melainkan sumber pengetahuan yang perlu dijaga agar nilai sejarahnya tidak hilang di balik popularitas tempat wisata.

Tugu Pahlawan Surabaya

Surabaya, Kota yang Menyimpan Sejarah Perjuangan dan Perdagangan

Berbeda dengan peninggalan kerajaan, Surabaya memiliki warisan sejarah yang kuat berkaitan dengan perkembangan kota, perdagangan, dan perjuangan kemerdekaan.

Tugu Pahlawan menjadi salah satu penanda penting Pertempuran 10 November 1945. Monumen ini diresmikan Presiden Soekarno pada 10 November 1952 untuk mengenang perjuangan arek-arek Suroboyo.

Di bawah kawasan monumen terdapat Museum Sepuluh Nopember yang menyajikan dokumentasi dan artefak terkait pertempuran tersebut. Kehadiran museum membuat pengunjung dapat mempelajari peristiwa sejarah melalui koleksi dan penyajian informasi, bukan hanya melalui monumen yang terlihat dari luar.

Surabaya juga memiliki kawasan Kota Lama yang menyimpan bangunan berarsitektur kolonial dan jejak perkembangan kota sebagai pusat perdagangan. Kawasan ini mencakup sejumlah zona dengan karakter sejarah berbeda, termasuk zona Eropa, Pecinan, Arab, dan Melayu.

Pemanfaatan kawasan bersejarah sebagai destinasi wisata dapat membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal sejarah melalui kegiatan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, revitalisasi kawasan heritage perlu memperhatikan karakter asli bangunan dan lingkungan. Perubahan fungsi yang tidak mempertimbangkan nilai sejarah berisiko menghilangkan identitas yang justru menjadi daya tarik kawasan tersebut.

Candi Jawi Di Pasuruan

Pasuruan, Candi Jawi di Kaki Pegunungan

Di Kabupaten Pasuruan, Candi Jawi menjadi salah satu peninggalan arkeologi yang memiliki nilai penting bagi sejarah Jawa Timur.

Candi yang berada di kawasan Prigen tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional. Keberadaannya menambah gambaran tentang perkembangan arsitektur dan kehidupan keagamaan pada masa kerajaan di Jawa.

Keberadaan candi ini sekaligus menunjukkan bahwa warisan sejarah Jawa Timur tidak hanya terpusat di kawasan yang sudah populer seperti Mojokerto atau Blitar.

Baca Juga:  Skor SPIP Pemkot Malang Turun pada 2025, Wali Kota Minta Seluruh OPD Berbenah

Peninggalan di daerah lain juga memiliki nilai penting dan membutuhkan perhatian yang sama dalam hal dokumentasi, perawatan, penyediaan informasi, serta pengenalan kepada publik.

Bagi masyarakat, keberadaan situs seperti Candi Jawi membuka kesempatan untuk mengenali sejarah daerah melalui kunjungan edukatif. Sementara bagi pengelola, tantangannya adalah menjaga agar aktivitas kunjungan tidak mengganggu kelestarian situs.

Ilustrasi Jejak Manusia Purba

Ngawi, Jejak Manusia Purba di Tepi Bengawan Solo

Perjalanan sejarah Jawa Timur bahkan membawa kita jauh sebelum masa kerajaan.

Di Kabupaten Ngawi, Museum Trinil menyimpan koleksi fosil yang berkaitan dengan penelitian manusia purba dan kehidupan fauna pada masa prasejarah.

Kawasan Trinil dikenal dalam sejarah penelitian paleoantropologi, terutama setelah penelitian Eugene Dubois pada akhir abad ke-19 menghasilkan temuan penting yang berkaitan dengan Homo erectus.

Museum Trinil memungkinkan masyarakat mengenal temuan fosil dan konteks kehidupan purba melalui koleksi yang disajikan. Situs ini juga memiliki nilai penting bagi penelitian arkeologi, paleoantropologi, dan paleontologi.

Keberadaan museum tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Jawa Timur tidak hanya berbicara tentang kerajaan dan perjuangan kemerdekaan. Jauh sebelum terbentuknya kehidupan perkotaan seperti sekarang, wilayah ini telah menyimpan jejak kehidupan yang menjadi bagian penting dari sejarah manusia.

Karena itu, keberlanjutan museum dan situs prasejarah membutuhkan dukungan terhadap perawatan koleksi, dokumentasi ilmiah, serta pendidikan publik.

Sumenep, Warisan Keraton dengan Perpaduan Budaya

Di ujung timur Pulau Madura, Kabupaten Sumenep memiliki warisan sejarah berupa kompleks Keraton Sumenep.

Keraton yang dikenal sebagai Keraton Panembahan Sumolo dibangun pada 1762. Arsitekturnya memperlihatkan perpaduan unsur Islam, Eropa, Tionghoa, dan Jawa, mencerminkan pertemuan berbagai pengaruh budaya dalam perjalanan sejarah Madura.

Di dalam kompleks tersebut terdapat Museum Keraton Sumenep yang dikelola pemerintah kabupaten. Museum ini menyimpan koleksi sejarah dan menjadi ruang untuk mengenal perjalanan pemerintahan serta kebudayaan setempat.

Warisan tersebut menunjukkan bahwa identitas Jawa Timur terbentuk dari keberagaman sejarah dan kebudayaan antardaerah.

Pelestarian keraton dan koleksinya bukan hanya berkaitan dengan mempertahankan bangunan lama, tetapi juga menjaga pengetahuan mengenai tradisi, tokoh sejarah, arsitektur, dan perkembangan masyarakat Madura.

Baca Juga:  Pemkot Batu Gelar Safari Ramadhan Terakhir Di Masjid Jami' Al Azhar

Tantangan Pelestarian: Tidak Cukup Hanya Menjaga Fisik Bangunan

Beragam peninggalan di sejumlah daerah tersebut memperlihatkan betapa luasnya kekayaan sejarah Jawa Timur. Namun, keberadaan situs dan bangunan bersejarah tidak otomatis menjamin seluruh warisan tersebut terpelihara dengan baik.

Pelestarian membutuhkan pendataan, pemantauan kondisi fisik, perawatan berkala, perlindungan dari kerusakan, serta tenaga yang memiliki keahlian sesuai kebutuhan masing-masing peninggalan.

Selain itu, akses masyarakat juga perlu menjadi perhatian. Informasi tentang sejarah, lokasi, jam kunjungan, fasilitas, dan aturan berkunjung perlu tersedia secara jelas agar masyarakat dapat memanfaatkan situs dan museum sebagai ruang edukasi.

Keterlibatan sekolah, perguruan tinggi, komunitas sejarah, pelaku wisata, dan masyarakat sekitar dapat memperluas upaya pengenalan warisan budaya. Teknologi digital juga dapat membantu menghadirkan informasi sejarah kepada generasi muda yang semakin akrab dengan media digital.

Di sisi lain, pengembangan wisata sejarah perlu menjaga keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi dan perlindungan warisan. Peningkatan jumlah pengunjung seharusnya tidak mengorbankan keaslian bangunan, kelestarian situs, maupun nilai budaya yang melekat padanya.

Hari Jadi Jatim, Momentum Memastikan Sejarah Tetap Hidup

Memperingati usia ke-81 Provinsi Jawa Timur bukan hanya tentang mengenang perjalanan pemerintahan dan pembangunan daerah.

Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali warisan sejarah yang tersebar dari satu kabupaten ke kabupaten lain, dari peninggalan manusia purba hingga bangunan yang merekam perjuangan kemerdekaan.

Masyarakat perlu memiliki kesempatan untuk mengenal warisan tersebut, sementara pemerintah dan pengelola berkepentingan memastikan peninggalan yang bernilai sejarah tetap terlindungi.

Sebab, warisan sejarah bukan hanya milik generasi yang hidup pada masa lalu. Nilainya juga menjadi bagian dari hak generasi sekarang untuk belajar, memahami identitas daerah, dan mengenali perjalanan masyarakatnya.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang seberapa banyak warisan sejarah Jawa Timur yang masih terjaga tidak cukup dijawab dengan menghitung jumlah candi, museum, atau bangunan tua yang masih berdiri.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah semua peninggalan itu masih dirawat, dipahami, dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebab, Jawa Timur tidak hanya mewarisi sejarah. Jawa Timur juga memikul tanggung jawab untuk menjaganya.