Uji Coba MBG Prasmanan di MIN 2 Malang: Menu Lebih Variatif, Jam Belajar Berpotensi Bertambah
MALANG – Uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di MIN 2 Kota Malang menunjukkan hasil awal positif. Siswa menilai menu lebih hangat, variatif, dan porsi bisa disesuaikan, namun berdampak pada kebutuhan penyesuaian jam belajar.
Uji coba tersebut dipantau langsung Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, di sekolah yang berlokasi di Kecamatan Sukun, Kamis (2/4/2026).
Hasil evaluasi awal menunjukkan sistem prasmanan memberikan peningkatan kualitas penyajian makanan.
Siswa mendapatkan menu lebih hangat, pilihan makanan lebih beragam dan porsi yang bisa disesuaikan.
“Menunya lebih hangat, variasinya lengkap, dan porsinya bisa menyesuaikan kebutuhan siswa,” ujar Wahyu Hidayat.

Salah satu siswa kelas VI MIN 2 Kota Malang, Afizzah (12), mengaku lebih menyukai sistem prasmanan dibanding sebelumnya.
“Lebih enak karena makanannya masih hangat dan bisa pilih sendiri. Jadi bisa ambil sesuai yang saya suka,” ujarnya.
Komposisi makanan juga dinilai lebih seimbang, mencakup karbohidrat, protein, sayur, buah, hingga susu.
Di sisi lain, sistem prasmanan memerlukan waktu tambahan karena siswa harus antre saat mengambil makanan.
Kondisi ini berpotensi mengurangi waktu kegiatan belajar mengajar dan mendorong penyesuaian jadwal sekolah.

“Perlu pengaturan kembali karena ada waktu antre dan makan yang cukup menyita jam pelajaran,” jelas Wahyu.
Pihak sekolah memperkirakan penambahan waktu istirahat akan berdampak pada jam kepulangan siswa.
Kepala MIN 2 Kota Malang, Nanang Sukmawan, menyebut penyesuaian waktu bisa mencapai 10–15 menit.
“Waktu istirahat kemungkinan akan ditambah. Konsekuensinya jam pulang siswa bisa mundur sekitar 10 sampai 15 menit karena ada antrean,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihak sekolah tengah menyiapkan skema agar pelaksanaan lebih efisien, termasuk mengatur alur antrean dan mekanisme makan siswa.
“Ke depan, setelah mengambil makanan, siswa akan langsung kembali ke kelas untuk makan agar lebih tertib dan tidak memakan waktu terlalu lama,” tambahnya.

Selain variasi menu, sistem prasmanan dinilai mampu menjaga kualitas makanan tetap baik.
Berbeda dengan sistem sebelumnya menggunakan wadah tertutup, metode ini membuat makanan tidak lembap dan tetap layak konsumsi.
“Dengan sistem terbuka, makanan tidak berair dan rasanya lebih terjaga saat dikonsumsi siswa,” jelas Nanang.
Pemkot Malang menegaskan uji coba ini masih dalam tahap evaluasi sebelum diterapkan lebih luas.
Hasil pelaksanaan akan dilaporkan ke Badan Gizi Nasional sebagai bahan penentuan kebijakan lanjutan.
Uji coba MBG sistem prasmanan di Kota Malang menunjukkan dua hasil utama: peningkatan kualitas konsumsi siswa dan kebutuhan penyesuaian waktu belajar.
Pemkot Malang bersama pihak sekolah akan mengevaluasi efektivitas sistem ini sebelum memutuskan penerapan secara menyeluruh.
