Tri Rismaharini Dengar Aspirasi Generasi Z di Kota Malang

CITILIVE – Calon Gubernur Jawa Timur nomor urut 3, Tri Rismaharini, menerima berbagai masukan dan pertanyaan dari para mahasiswa generasi Z dalam acara diskusi bertajuk “Curhat ke Mak Risma” yang digelar di Kayutangan, Kota Malang, pada Kamis malam, 3 Oktober 2024.
Dalam acara tersebut, Risma didampingi oleh pasangan calon Wali Kota Malang, Heri Cahyono, dan calon Wakil Wali Kota Malang, Ganis Rumpoko. Para mahasiswa menyampaikan berbagai keluhan, termasuk mengenai koperasi dan layanan infrastruktur yang mendukung komunikasi jarak jauh untuk generasi muda.
Risma menanggapi keluhan ini dengan menekankan bahwa koperasi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ia menyebut koperasi yang menjual kebutuhan pokok sebaiknya bisa memberikan pelayanan yang sebanding dengan minimarket.
“Kita sering lupa bahwa generasi muda cenderung lebih memilih belanja di minimarket daripada ke pasar. Penataan koperasi bukan hanya harus bersih dan terang, tetapi juga harus menarik minat pembeli,” ujar Risma.
Selain itu, Risma juga menyoroti pentingnya koperasi menyediakan layanan pemesanan dan pengiriman barang secara online agar tidak ketinggalan zaman.
“Tidak hanya soal pasar, tetapi juga mengikuti tren yang terjadi di dunia,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dilansir dari Kompas, Risma juga berjanji, jika terpilih menjadi Gubernur Jawa Timur, ia akan menyediakan ruang khusus bagi para kreator konten di setiap Bakorwil. Menurut Risma, fasilitas ini sangat penting bagi anak muda yang bergerak di industri kreatif, seperti pengalamannya saat menjadi Wali Kota Surabaya dengan menyediakan 9.000 titik WiFi gratis di berbagai taman.
“Insya Allah, jika saya terpilih, saya akan menyediakan ruang kreator di Bakorwil. Anak-anak muda kreatif butuh konten, dan ini bisa menjadi dukungan untuk mereka,” ungkapnya.
Menjawab pertanyaan Ganis Rumpoko mengenai kemacetan, Risma menjelaskan bahwa masalah ini tidak hanya berkaitan dengan ukuran jalan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti parkir liar dan pedagang kaki lima. Ia menyarankan untuk membuat rumah parkir sebagai solusi.
“Saya pernah lakukan ini di Surabaya. Beberapa kantor dipindahkan ke satu lokasi, sehingga area kosong bisa dijadikan tempat parkir,” ujarnya.