Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
23/09/2026
CITILIVE

Siswa SDN Wonokoyo 2 Belajar Keris sebagai Simbol Status Sosial

rifamahmudah
  • September 23, 2026
  • 2 min read
Siswa SDN Wonokoyo 2 Belajar Keris sebagai Simbol Status Sosial

CITILIVE,MALANG — Program Museum Keliling Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang membawa edukasi sejarah dan budaya keris kepada siswa SDN Wonokoyo 2 Kota Malang. Dalam kegiatan tersebut, siswa tidak hanya dikenalkan pada bentuk dan fungsi keris, tetapi juga sejarah serta peran sosialnya dalam kehidupan masyarakat Jawa pada masa lalu.

Arkeolog sekaligus peneliti, Juan Steven Susilo, menjelaskan keris pada periode tertentu tidak hanya berfungsi sebagai benda budaya maupun senjata. Keris juga dapat menjadi salah satu simbol yang menunjukkan status sosial pemiliknya.

“Ketika orang memegang keris, dari situ bisa diketahui status sosialnya. Dulu belum ada KTP, sehingga salah satu simbol status sosial dapat dilihat dari keris yang dikenakan,” jelas Juan. Menurut Juan, pemahaman tersebut penting diberikan kepada siswa agar mereka tidak hanya mengenal keris melalui gambaran yang kerap muncul dalam tayangan hiburan sebagai senjata perang.

Dalam konteks sejarah dan budaya Jawa, keris memiliki fungsi dan makna yang lebih luas, termasuk berkaitan dengan identitas serta posisi sosial seseorang. Antusiasme siswa terlihat saat Juan memaparkan koleksi keris dan sejumlah benda budaya lainnya. Keris dan topeng menjadi koleksi yang paling menarik perhatian siswa karena relatif familiar bagi mereka. “Anak-anak lebih menyukai tentang keris dan topeng. Karena mungkin sudah familiar dengan keris, mereka tidak terlalu asing. Ketika dijelaskan juga mereka sangat antusias,” kata Juan. Sementara itu, Kepala SDN Wonokoyo 2, Bambang Wijayanto, mengatakan Museum Keliling membantu siswa memperoleh pengalaman belajar secara langsung mengenai museum dan benda-benda bersejarah.

Menurutnya, materi yang disampaikan juga berkaitan dengan pembelajaran di sekolah, khususnya IPS yang memuat materi mengenai peninggalan sejarah dan kehidupan masyarakat pada masa lalu. “Sangat banyak yang didapatkan, utamanya mengedukasi anak-anak tentang pemahamannya pada museum dan benda-benda yang disimpan di museum. Itu juga sangat berkaitan dengan pelajaran anak-anak,” ujar Bambang.

Baca Juga:  Kota Malang Raih Dua Penghargaan ProKlim 2025, Wali Kota Tekankan Konsistensi Kebijakan Iklim

Ia berharap program Museum Keliling dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Bambang juga membuka peluang kerja sama agar siswa dapat memperoleh kesempatan mengunjungi museum secara langsung. “Harapan saya bisa dilanjutkan, karena ini sangat mengedukasi. Bisa menjalin kerja sama dengan pihak museum untuk memberikan sosialisasi dan mungkin anak-anak juga bisa berkunjung ke sana,” tuturnya. Program tersebut menjadi salah satu bentuk pembelajaran di luar kelas untuk mengenalkan sejarah dan warisan budaya kepada siswa melalui koleksi museum secara langsung. (Shin)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *