Rektor UM Soroti Penurunan Anggaran, Kampus Perketat Efisiensi dan Fokus Tingkatkan Kualitas Pendidikan
SMARTLIVE – Rektor Universitas Negeri Malang, Hariyono, menegaskan pentingnya langkah efisiensi anggaran di lingkungan perguruan tinggi menyusul kebijakan pemerintah terkait penurunan alokasi dana pendidikan tinggi.
Menurut Hariyono, kondisi tersebut membuat pihak kampus harus lebih selektif dalam mengelola pengeluaran, termasuk kegiatan promosi maupun partisipasi dalam sejumlah agenda eksternal.
“Kami harus melakukan efisiensi karena ada kebijakan dari kementerian bahwa anggaran dari pemerintah menurun. Di sisi lain kami tidak boleh menaikkan biaya, sementara capaian kinerja utama, termasuk pembinaan institusi, justru harus meningkat,” ujar Hariyono, Selasa (11/3/2026).
Ia mengakui kebijakan efisiensi tersebut berdampak pada sejumlah aktivitas kampus, termasuk keterlibatan dalam kegiatan seremonial maupun dukungan promosi seperti pemasangan iklan ucapan.
Hariyono bahkan menyampaikan permohonan maaf kepada berbagai pihak, termasuk rekan-rekan media dan mitra institusi, karena untuk sementara waktu Universitas Negeri Malang belum dapat berpartisipasi secara maksimal dalam berbagai kegiatan tersebut.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pengelolaan keuangan kampus berjalan lebih efektif dan tidak menimbulkan risiko kerugian bagi institusi.
“Kami mengubah manajemen pengelolaan keuangan. Selama ini yang ditekankan adalah serapan anggaran, tetapi sekarang kami ubah menjadi capaian kinerja. Jadi unit-unit di kampus tidak hanya fokus pada serapan, tetapi juga pada hasil yang dicapai,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pihaknya menerapkan prinsip kehati-hatian dalam tata kelola keuangan kampus. Bahkan, selama masa kepemimpinannya hingga 2027, ia berkomitmen menjaga stabilitas keuangan tanpa menambah beban utang bagi institusi.
“Kami berupaya menggunakan manajemen yang hati-hati. Selama saya menjabat sebagai rektor sampai tahun 2027, kami berusaha tidak melakukan utang agar tidak menjadi beban bagi pengelola berikutnya,” tegasnya.
Di sisi lain, Universitas Negeri Malang juga terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan melalui penguatan program studi serta proses akreditasi, baik di tingkat program studi maupun institusi.
Hariyono menilai tantangan pendidikan tinggi saat ini semakin kompleks, terutama dengan meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi yang belum sepenuhnya terserap di dunia kerja.
“Kampus harus terus memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa agar mampu bertahan dan mengembangkan kompetensinya. Namun kita juga harus menyadari bahwa penciptaan lapangan kerja bukan hanya tugas perguruan tinggi,” katanya.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sangat diperlukan agar peluang kerja semakin terbuka dan mampu menyerap lulusan perguruan tinggi.
“Kampus bisa menghasilkan lulusan yang berkualitas, tetapi jika lapangan kerja terbatas tentu menjadi tantangan bersama. Karena itu pemerintah dan masyarakat juga perlu membuka ruang kerja yang lebih luas,” pungkasnya. (Shin)
