Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
31/03/2026
CITILIVE

Ngalam Melintas: Setahun Wahyu Hidayat Menata Kota, Dari Banjir hingga Mimpi Metropolitan

rifamahmudah
  • Maret 31, 2026
  • 4 min read
Ngalam Melintas: Setahun Wahyu Hidayat Menata Kota, Dari Banjir hingga Mimpi Metropolitan

CITILIVE – Memasuki usia ke-112 pada 1 April 2026, Kota Malang mengusung tema besar “Ngalam Melintas: Bergerak Tuntas, Mbois Berkelas.” Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan cerminan perjalanan kota yang terus bergerak melintasi zaman tanpa meninggalkan akar budaya.

Di bawah kepemimpinan Wali Kota Wahyu Hidayat, satu tahun terakhir menjadi fase penting: menata persoalan lama, sekaligus membangun fondasi menuju kota metropolitan yang inklusif, kreatif, dan berkelas. “Ngalam Melintas” menjadi simbol bahwa Malang tidak berhenti pada romantisme masa lalu, tetapi terus bergerak menghadapi tantangan baru. Sementara “Bergerak Tuntas” menegaskan komitmen menyelesaikan pekerjaan rumah kota. Dan “Mbois Berkelas” menjadi gambaran masa depan: kota yang tidak hanya maju, tetapi juga membanggakan.

Persoalan banjir yang selama ini menjadi “langganan tahunan” mulai disentuh dengan pendekatan lebih menyeluruh. Dalam satu tahun terakhir, Pemerintah Kota Malang melakukan normalisasi drainase di sejumlah titik rawan, mempercepat respons saat banjir terjadi, serta menggerakkan kerja bakti massal berbasis wilayah.

Ngalam Melintas

Namun yang paling menonjol adalah perubahan pendekatan: banjir tidak lagi dipandang sekadar persoalan teknis, melainkan juga persoalan perilaku. Melalui gerakan kebersihan yang masif, masyarakat dilibatkan langsung dalam menjaga lingkungan. Ke depan, pembangunan drainase skala besar hingga sistem pengendalian air menjadi bagian dari roadmap menuju kota yang lebih siap menghadapi tekanan urbanisasi.

Ini sejalan dengan semangat “Bergerak Tuntas” bahwa persoalan klasik harus diselesaikan hingga ke akar.

Sampah menjadi salah satu fokus utama selama setahun terakhir. Bukan hanya karena dampaknya terhadap banjir, tetapi juga karena menjadi indikator kualitas kota. Melalui gerakan seperti Indonesia ASRI dan kerja bakti rutin, Pemkot Malang mendorong perubahan budaya. Siswa dibiasakan menjaga kebersihan sebelum belajar, sementara masyarakat diajak aktif dalam aksi bersih lingkungan.

Baca Juga:  KPU Batu Siap Gelar Pilkada Walikota dan Wakil Walikota Paska Pemilu 2024

Lebih dari itu, langkah strategis juga mulai disiapkan. Kolaborasi pengelolaan sampah lintas wilayah Malang Raya melibatkan Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu menjadi bagian penting menuju sistem yang lebih modern.

Rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah berbasis energi (PLTSa) di Pakis menjadi penanda bahwa Malang mulai melangkah ke arah kota metropolitan: menyelesaikan masalah dengan inovasi dan teknologi.

Pertumbuhan kota membawa konsekuensi: kemacetan. Kawasan Soekarno-Hatta dan Ahmad Yani menjadi titik paling padat. Dalam jangka pendek, rekayasa lalu lintas terus dilakukan. Namun solusi jangka panjang mulai disiapkan.

Rencana pembangunan flyover menjadi salah satu proyek strategis yang kini masuk tahap kajian. Jika terealisasi, ini akan menjadi simbol penting transformasi infrastruktur Kota Malang menuju kota metropolitan.

Karena kota besar ditentukan bukan hanya oleh aktivitasnya, tetapi juga oleh kelancaran mobilitasnya.
Perbaikan jalan, jembatan, dan trotoar terus dilakukan secara bertahap. Namun pendekatan yang kini diambil tidak lagi sekadar tambal sulam, melainkan penataan kawasan secara terintegrasi.

Hal ini penting dalam mewujudkan kota yang “Mbois Berkelas” di mana kualitas ruang publik menjadi wajah kota.

Trotoar yang lebih layak, jalan yang lebih baik, serta kawasan yang lebih tertata menjadi bagian dari upaya menghadirkan kenyamanan bagi warga.

Selain pembangunan fisik, satu hal yang juga menguat adalah identitas Kota Malang sebagai kota kreatif. Sebagai bagian dari jaringan UNESCO Creative Cities Network di bidang media art, Malang terus mendorong penguatan sektor kreatif berbasis budaya dan teknologi.

Rangkaian perayaan HUT ke-112 pun dirancang lebih inklusif dalam melibatkan komunitas, pelaku seni, hingga generasi muda.

Ini menjadi bagian dari “Ngalam Melintas”: menjaga akar budaya, sekaligus melangkah ke masa depan dengan kreativitas.

Baca Juga:  Arema FC Ajukan Audiensi dengan Pemkot Blitar Terkait Stadion Soepriadi

Selama satu tahun kepemimpinan Wahyu Hidayat, arah pembangunan Kota Malang mulai terlihat:
• Penanganan banjir berbasis sistem
• Gerakan budaya bersih untuk sampah
• Perencanaan infrastruktur strategis
• Kolaborasi lintas wilayah
• Penguatan identitas kota kreatif

Semua itu merupakan fondasi menuju kota metropolitan—bukan sekadar label, tetapi kesiapan menyeluruh.

Di usia ke-112, Kota Malang memang belum sepenuhnya bebas dari persoalan. Namun yang berubah adalah cara kota ini melangkah.

Dari yang semula reaktif, kini mulai terarah.
Dari yang parsial, kini mulai terintegrasi.

Dan dari kota yang nyaman, kini menuju kota yang berkelas.

Tema “Ngalam Melintas: Bergerak Tuntas, Mbois Berkelas” menjadi refleksi sekaligus harapan.

Bahwa Malang akan terus melintas zaman, menuntaskan persoalan, dan naik kelas menjadi kota metropolitan yang tetap berakar pada budayanya, namun siap bersaing di masa depan. (shin)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *