Ledakan Belanja Online Saat Ramadan, Kiriman Paket di Malang Diprediksi Membludak hingga H-7 Lebaran
CITILIVE – Tren belanja online masyarakat selama Ramadan diprediksi kembali melonjak menjelang Idul Fitri 2026. Tidak hanya pakaian Lebaran, berbagai kebutuhan rumah tangga hingga hampers juga banyak diburu masyarakat melalui platform digital. Dampaknya, volume kiriman paket di sejumlah jasa ekspedisi diperkirakan meningkat signifikan dan berpotensi membludak menjelang hari raya.
Lonjakan pengiriman biasanya mulai terasa sejak pertengahan Ramadan, ketika masyarakat mulai mempersiapkan kebutuhan Lebaran. Barang yang paling banyak dikirim umumnya berupa baju muslim, sepatu, perlengkapan ibadah, hingga kebutuhan rumah tangga.
Sejumlah pelaku jasa pengiriman menyebut, peningkatan kiriman paket saat Ramadan bisa mencapai 20 hingga 40 persen dibandingkan hari normal. Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya aktivitas belanja masyarakat melalui marketplace maupun toko daring.
Selain faktor promo Ramadan dari berbagai platform e-commerce, kemudahan transaksi digital juga menjadi pendorong meningkatnya belanja online. Banyak masyarakat memilih berbelanja dari rumah dibandingkan harus datang langsung ke pusat perbelanjaan.
Di Kota Malang sendiri, tren ini juga diprediksi terjadi. Sejumlah agen ekspedisi mengaku mulai merasakan peningkatan kiriman paket sejak awal Ramadan, terutama untuk produk fesyen dan kebutuhan Lebaran.
“Biasanya mulai terasa naik di pertengahan Ramadan. Paket paling banyak pakaian Lebaran, sepatu, sampai perlengkapan rumah tangga untuk persiapan hari raya,” ujar Kurnia Muhammad kuris ekspedisi Toko online orange di wilayah Malang.
Peningkatan kiriman paket diperkirakan mencapai puncaknya pada H-10 hingga H-5 sebelum Lebaran. Pada periode tersebut, masyarakat mulai berlomba memastikan pesanan mereka tiba sebelum hari raya.
Terpisah, menurut Riski Indira staf dari jasa pengiriman paket JNE mengatakan, Berdasarkan pola pengiriman pada tahun-tahun sebelumnya, batas aman pengiriman paket agar sampai sebelum Lebaran diperkirakan sekitar H-7 atau H-5 Idul Fitri.
“Pengiriman terakhir sekitar 14–16 Maret 2026. Setelah periode tersebut, risiko keterlambatan pengiriman akan semakin besar karena tingginya volume paket yang harus diproses di gudang sortir, Ujarnya, Jumat (6/3).
Selain lonjakan paket, distribusi logistik juga berpotensi terdampak pembatasan operasional kendaraan angkutan barang menjelang arus mudik. Kondisi ini biasanya membuat proses pengiriman membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan hari biasa.
Meski demikian, sebagian besar perusahaan ekspedisi tetap beroperasi selama masa Lebaran, meski dengan layanan terbatas. Beberapa kantor cabang dan drop point tetap membuka layanan pengiriman, namun proses sortir dan distribusi biasanya berjalan lebih lambat.
Aktivitas pengiriman diperkirakan kembali normal sekitar dua hingga tiga hari setelah Lebaran, atau sekitar 25 Maret 2026, ketika operasional logistik dan distribusi kembali berjalan seperti biasa.
Melihat tren tersebut, masyarakat yang ingin berbelanja kebutuhan Lebaran secara online disarankan untuk melakukan pemesanan lebih awal. Selain menghindari keterlambatan pengiriman, langkah ini juga bisa membantu mengurangi penumpukan paket di gudang ekspedisi.
Dengan meningkatnya aktivitas belanja selama Ramadan, sektor logistik menjadi salah satu industri yang ikut merasakan dampak positif. Lonjakan pengiriman paket tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga merata hingga ke daerah-daerah, termasuk Kota Malang yang dikenal memiliki aktivitas perdagangan dan konsumsi masyarakat yang cukup tinggi menjelang Lebaran. (Shin)
