Hujan Tak Surutkan Jamaah, Masjid Jami’ Kota Malang Dipadati Ibadah Malam 27 Ramadan
CITILIVE – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Agung Jami’ Kota Malang pada malam 27 Ramadan 1447 Hijriah, Senin malam (16/3/2026). Meski hujan gerimis sempat turun di kawasan pusat kota, ribuan jamaah tetap memadati area masjid untuk melaksanakan rangkaian ibadah malam Ramadan.
Sejak sebelum pukul 23.00 WIB, jamaah mulai berdatangan dari berbagai wilayah di Kota Malang. Area dalam masjid hingga pelataran terlihat penuh oleh jamaah yang ingin mengikuti rangkaian shalat witir, dzikir, dan doa bersama pada malam yang diyakini banyak umat Islam sebagai salah satu malam istimewa di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Shalat malam tersebut diimami oleh Ustadz H. Ahmad Nafi’, sementara tausiyah disampaikan oleh Habib Achmad Jamal bin Thoha Ba’agil. Dalam ceramahnya, ia mengingatkan pentingnya memperkuat keimanan di tengah berbagai tantangan pemikiran yang berkembang di era modern.

Menurutnya, umat Islam saat ini dihadapkan pada berbagai arus pemikiran yang dapat memengaruhi akal dan hati. Karena itu, umat perlu memperkuat diri dengan memperbanyak doa kepada Allah sekaligus memperdalam ilmu agama.
“Di tengah tantangan akhir zaman dan maraknya pemikiran yang dapat merusak akal serta hati umat, maka kita harus memperkuat diri dengan doa dan ilmu agama,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia juga menekankan pentingnya majelis ilmu sebagai tempat untuk menjaga keimanan serta membentengi diri dari berbagai pemahaman yang menyimpang.
Selain itu, jamaah diingatkan agar berhati-hati dalam memilih guru serta majelis ilmu. Menurutnya, majelis ilmu yang benar adalah yang mengajarkan ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar mengejar kepentingan dunia.

“Ilmu yang benar pada akhirnya akan melahirkan rasa takut dan ketakwaan kepada Allah. Itulah ciri utama para ulama dan orang yang benar-benar berilmu,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa ilmu yang dilandasi keikhlasan dan ketakwaan menjadi kunci keselamatan umat dalam menghadapi berbagai tantangan pemikiran di akhir zaman.
Meski cuaca tidak sepenuhnya bersahabat, antusiasme masyarakat untuk beribadah tetap tinggi. Jamaah terlihat memenuhi area masjid hingga pelataran.
Menariknya, suasana malam 27 Ramadan kali ini juga terasa lebih kondusif dibandingkan malam-malam sebelumnya. Jika pada hari-hari sebelumnya suara petasan masih kerap terdengar di sekitar kawasan masjid, pada malam tersebut suara petasan hampir tidak terdengar sehingga ibadah berlangsung lebih tenang.
Salah satu jamaah, M. Yunus (40), warga Kampung Jodipan, mengaku hampir setiap tahun meluangkan waktu untuk menghidupkan malam 27 Ramadan di Masjid Jami’.
“Saya hampir setiap tahun maleman di sini. Saya juga mengajak istri dan anak-anak supaya mereka merasakan suasana ibadah di malam-malam akhir Ramadan,” ujarnya.
Menurut Yunus, meskipun sempat turun gerimis, hal itu tidak mengurangi semangat jamaah untuk tetap mengikuti rangkaian ibadah hingga selesai.
Malam 27 Ramadan sendiri sering diyakini sebagai salah satu malam yang berpotensi menjadi Lailatul Qadar, malam yang disebut dalam Al-Qur’an memiliki keutamaan lebih baik dari seribu bulan. Karena itu, banyak umat Muslim memanfaatkan momentum tersebut untuk memperbanyak ibadah, doa, dan dzikir.
Hingga rangkaian ibadah selesai, jamaah tetap memenuhi area masjid dengan suasana yang tertib dan khusyuk, menandai kuatnya semangat masyarakat Kota Malang dalam menyambut malam-malam terakhir Ramadan. (Shin)
