Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
11/03/2026
CITILIVE

DPRD Malang Semprot PJT I, SPAM Bango Sering Gangguan Sejak Beroperasi

rifamahmudah
  • Maret 11, 2026
  • 3 min read
DPRD Malang Semprot PJT I, SPAM Bango Sering Gangguan Sejak Beroperasi

CITILIVE,MALANG – Komisi B DPRD Kota Malang menyoroti keras operasional SPAM Bango yang dinilai masih sering mengalami gangguan sejak mulai beroperasi pada Agustus 2025. Gangguan tersebut memicu banyak keluhan masyarakat karena berdampak pada distribusi air bersih di sejumlah wilayah Kota Malang.

Ketua Komisi B DPRD Kota Malang Bayu Rekso Aji mengatakan, sejak dioperasikan dengan kapasitas awal 200 liter per detik, sistem penyediaan air minum tersebut hampir setiap bulan mengalami kendala operasional.

“Sejak 1 Agustus 2025 SPAM Bango berjalan dengan kapasitas awal 200 liter per detik. Tetapi hampir setiap bulan ada gangguan. Aduan dari masyarakat dan pengelola perumahan juga cukup banyak,” ujar Bayu dalam rapat evaluasi, Selasa (10/3/2026).

Saat ini, SPAM Bango tercatat melayani sekitar 20.758 sambungan rumah di Kota Malang. Wilayah layanan meliputi kawasan Muharto Timur, Jalan KH Malik, Mayjen Sungkono hingga area GOR Ken Arok.

Air baku sistem ini diambil dari Sungai Bango, kemudian diolah di instalasi pengolahan air sebelum disalurkan melalui jaringan milik Perumda Tugu Tirta Kota Malang.

Namun dalam beberapa kejadian terakhir, operasional instalasi sempat terganggu akibat sedimentasi yang menutup saluran intake atau jalur masuk air sungai ke instalasi pengolahan.

“Gangguan terakhir terjadi karena hujan deras yang membawa sedimen hingga menutup intake pompa. Kalau dipaksakan beroperasi tentu berisiko merusak peralatan,” jelas Bayu.

Selain gangguan teknis, DPRD juga menyoroti capaian produksi air yang dinilai belum selalu memenuhi target dalam perjanjian kerja sama antara Perum Jasa Tirta I dan Perumda Tugu Tirta Kota Malang.

Dalam kontrak kerja sama, target transaksi air baku ditetapkan minimal 14.755 meter kubik per hari dengan tarif Rp1.600 per meter kubik.

Baca Juga:  Polresta: Pelaku Pemerkosaan di Malang Terancam 12 Tahun Penjara

Data evaluasi menunjukkan realisasi produksi air pada beberapa bulan terakhir masih berada di bawah target. Pada Agustus 2025, realisasi produksi mencapai 454.081 meter kubik dari target 458.025 meter kubik. Sementara pada September 2025, realisasi hanya 408.586 meter kubik dari target 443.250 meter kubik.

Kondisi tersebut berdampak pada perhitungan transaksi air baku yang memunculkan pengurangan pembayaran hingga puluhan juta rupiah.

Komisi B juga menyoroti skema kerja sama yang dinilai tidak seimbang karena Perumda Tugu Tirta Kota Malang tetap memiliki kewajiban membayar air baku kepada Perum Jasa Tirta I, meskipun operasional SPAM Bango beberapa kali mengalami gangguan.

“Kalau sering terjadi gangguan seperti ini, bagaimana tanggung jawab dari PJT I jika sampai Tugu Tirta dirugikan?” tegas Bayu.

Menurutnya, persoalan tersebut harus menjadi perhatian serius karena menyangkut pelayanan air bersih kepada ribuan warga Kota Malang.

Meski demikian, DPRD menilai opsi pemutusan kerja sama bukan menjadi pilihan utama dalam waktu dekat karena kontrak masih berjalan. Namun Komisi B mendorong agar evaluasi kerja sama dilakukan lebih intensif.

“Kalau perlu evaluasi dilakukan setiap tiga atau enam bulan sekali supaya ada titik tengah dan tidak ada pihak yang dirugikan,” katanya.

Sementara itu, Vice President Pengembangan Bisnis Perum Jasa Tirta I, Didik Ardianto, menjelaskan gangguan operasional sebagian besar dipicu oleh kondisi sumber air dari Sungai Bango yang sangat dipengaruhi faktor cuaca.

Menurutnya, saat hujan deras debit sungai meningkat dan membawa sampah serta sedimen yang dapat menutup saluran intake.

“Ketika hujan deras, debit sungai meningkat dan membawa sampah serta sedimen. Itu yang sempat menutup intake sehingga air tidak bisa masuk ke instalasi pengolahan,” jelasnya.

Baca Juga:  Puluhan Keping Emas dan Liburan Mewah Menanti di Atria Wedding Season 2023

Ia menambahkan bahwa dalam kondisi tertentu operator harus menghentikan sementara produksi air sesuai standar operasional prosedur guna menjaga kualitas air yang dihasilkan.

PJT I juga melakukan perawatan rutin, mulai dari pemeriksaan harian hingga pembersihan sedimen secara berkala, termasuk menurunkan tim penyelam untuk membersihkan endapan di area intake sungai. “Sekarang intake sudah dibersihkan dan operasional sudah kembali normal,” pungkas Didik. (Shin)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *