Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
28/01/2026
CITILIVE

Dinkes Kota Malang Targetkan New Zero Stunting 2026, Fokus Cegah Calon Stunting Sejak Dini

rifamahmudah
  • Januari 26, 2026
  • 2 min read
Dinkes Kota Malang Targetkan New Zero Stunting 2026, Fokus Cegah Calon Stunting Sejak Dini

CITILIVE – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menargetkan pencapaian New Zero Stunting pada 2026 dengan memperkuat upaya pencegahan sejak dini, khususnya pada kelompok rentan. Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGM), angka stunting di Kota Malang saat ini tercatat sekitar 8,05 persen dari balita yang diperiksa.

Kepala Dinkes Kota Malang, dr. Husnul Muarif, M.Kes, mengatakan data EPPGM menjadi rujukan utama pemantauan stunting di daerah sembari menunggu rilis resmi Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dari pemerintah pusat.

“Secara nasional acuannya SSGI, tetapi untuk pemantauan rutin di Kota Malang kami menggunakan EPPGM. Saat ini angkanya sekitar 8,05 persen dari total balita yang kami periksa,” ujar dr. Husnul, Senin (26/1/2026).

Ia menjelaskan, strategi penanganan stunting di Kota Malang dibagi ke dalam dua pendekatan utama. Pertama, mencegah calon stunting agar tidak berkembang menjadi stunting, dan kedua, melakukan intervensi pada anak yang telah teridentifikasi stunting agar dapat keluar dari kondisi tersebut.

“Stunting kami bagi dua. Yang pertama mencegah calon stunting agar tidak menjadi stunting, dan yang kedua mengupayakan anak yang sudah stunting bisa keluar dari kondisi itu,” jelasnya.

Sebagai bagian dari komitmen jangka menengah, Pemkot Malang menargetkan tidak ada kasus stunting baru pada 2026. Fokus pencegahan diarahkan pada kelompok-kelompok berisiko, seperti ibu hamil dengan kekurangan energi kronis, bayi dengan berat badan lahir rendah, serta remaja putri dengan kadar hemoglobin (HB) rendah berdasarkan hasil skrining kesehatan.

Menurut dr. Husnul, kondisi gizi remaja putri menjadi faktor krusial dalam upaya pencegahan stunting jangka panjang karena berpengaruh langsung terhadap kualitas kehamilan dan tumbuh kembang anak.

Baca Juga:  Guyub Rukun Junrejo Tempo Dulu; Wadah Pengenalan UMKM Lokal

“Remaja putri dengan HB rendah menjadi perhatian serius, karena ini akan berdampak pada kehamilan dan meningkatkan risiko stunting ke depan,” katanya.

Sementara itu, intervensi bagi anak yang telah mengalami stunting diprioritaskan pada usia di bawah dua tahun, yang dinilai sebagai periode emas untuk perbaikan status gizi dan pertumbuhan.

“Anak usia di bawah dua tahun menjadi prioritas karena intervensinya lebih efektif dan hasilnya lebih cepat,” tambahnya.

Upaya intervensi dilakukan melalui pemantauan pertumbuhan secara berkala, pemberian makanan tambahan bergizi, edukasi orang tua, serta penguatan layanan kesehatan ibu dan anak di fasilitas kesehatan maupun di tingkat masyarakat.

Dr. Husnul menegaskan, keberhasilan program penurunan stunting membutuhkan dukungan lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat.

“Target kami jelas, mengurangi yang stunting dan mencegah calon stunting. Ini tidak bisa hanya oleh sektor kesehatan, tapi harus dikerjakan bersama,” tegasnya. (Shin)

1 Comment

  • wow your article is simply a masterpiece, i like that, keep it up and will be checking for new update. do you post often? you can check the biggest webdesign freelancer in platform in germany called https://webdesignfreelancerfrankfurt.de/ Thank you for your wonderful post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *