Dikira Keris Kecil, Ternyata Cundik: Siswa SMPN 21 Malang Belajar Membaca Artefak Jawa
CITILIVE,MALANG — Sekilas bentuknya menyerupai keris berukuran kecil. Namun, benda yang diperkenalkan kepada siswa SMP Negeri 21 Malang itu bukan keris, melainkan cundik, senjata tradisional berukuran kecil yang dalam konteks budaya Jawa dikenal berkaitan dengan penggunaan oleh perempuan. Perbedaan keris dan cundik menjadi salah satu materi edukasi dalam program Museum Keliling Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang di SMPN 21 Malang, Rabu (23/9/2026).
Arkeolog dan peneliti Juan Steven Susilo menjelaskan, pengenalan artefak kepada pelajar tidak berhenti pada nama dan bentuk benda. Siswa juga diajak memahami fungsi, cara penggunaan hingga makna sosial yang melekat pada artefak tersebut. “Adik-adik tadi mengira itu keris yang lebih kecil, padahal namanya cundik. Cundik digunakan oleh kaum wanita. Kita juga membahas bagaimana posisi keris dan cundik ditempatkan pada tubuh sebagai simbol identitas,” ujar Juan.

Menurut Juan, cara seseorang mengenakan keris pada masa lalu juga dapat memberikan informasi mengenai identitas dan posisi sosial pemakainya. “Dari posisi dan cara keris itu dikenakan, bisa menunjukkan identitas pemakainya. Misalnya apakah dia seorang priyayi, prajurit, orang biasa, atau bagian dari kalangan darah biru,” katanya. Penjelasan tersebut membuat siswa tidak hanya melihat keris sebagai senjata atau benda pusaka. Artefak tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana masyarakat pada masa lalu membangun identitas dan struktur sosial. Selain keris dan cundik, siswa juga dikenalkan dengan topeng Panji serta sejumlah arca yang berkaitan dengan sejarah Malang, termasuk periode Singhasari.
Juan mengatakan, topeng Panji juga menarik perhatian siswa karena sebagian sudah mengenal bentuknya, tetapi belum memahami cerita dan konteks sejarah di baliknya. “Banyak yang sudah melihat topeng Panji, tetapi belum memahami ceritanya. Dari situ saya jelaskan secara garis besar bagaimana kisahnya, sehingga mereka bisa memahami konteksnya,” jelasnya.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang Juli Handayani mengatakan, pengenalan artefak kepada generasi muda penting agar benda-benda budaya tidak hanya dipahami dari bentuk fisiknya. Menurutnya, keris memiliki nilai budaya dan simbol yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat pada masa lalu, termasuk perbedaan penggunaan dan pemaknaannya bagi laki-laki dan perempuan. Sementara itu, Humas SMPN 21 Malang Fiona Teguh Rizka menilai materi Museum Keliling membantu siswa mengenal sejarah dan kebudayaan yang berada di lingkungan mereka sendiri.
“Positif untuk anak-anak, karena apa yang disampaikan oleh Mas Juan dan tim ini terkait dengan budaya-budaya yang ada di Kota Malang. Sebagai siswa SMP Negeri 21 Malang yang ada di Kota Malang, mereka perlu tahu terkait dengan topeng, keris dan juga arca,” ujarnya. Fiona berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan di sekolah. Menurutnya, pengenalan sejarah lokal penting agar generasi muda tetap mengenali daerah dan kebudayaan tempat mereka tumbuh. “Anak-anak ini mungkin mulai melupakan sejarah kotanya sendiri, daerah asalnya sendiri, yang bisa tergerus oleh budaya-budaya dari luar,” tuturnya. Melalui Museum Keliling, siswa tidak hanya melihat artefak sebagai benda masa lalu, tetapi juga belajar membaca cerita, fungsi dan identitas masyarakat yang melekat di baliknya.
