Didit Dorong Warisan Budaya Malang Raya Dikemas dengan Teknologi Multimedia
CITILIVE,MALANG – Warisan budaya Malang Raya berpeluang diperkenalkan melalui teknologi multimedia untuk memperluas pengalaman masyarakat dalam mengenal sejarah dan tradisi. Pemanfaatan seni media baru dinilai dapat menjadi alternatif penyajian koleksi museum tanpa menghilangkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Akademisi sekaligus praktisi seni Didit Prasetyo Nugroho, S.Sn., M.Sn., menyampaikan hal tersebut dalam pemaparan bertajuk Dari Ingatan ke Pengalaman: Jejak Malang Raya dalam Seni Media Baru di Museum Mpu Purwa, Kota Malang, Kamis (15/10/2026).
Pemaparan itu merupakan bagian dari Pameran Bersama Temporer Delapan Museum bertajuk Perjalanan Waktu & Jejak Peradaban Malang Raya yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang pada 13–15 Oktober 2026.
Didit menjelaskan, pelestarian kebudayaan tidak cukup dilakukan dengan menjaga benda-benda peninggalan sejarah. Pengetahuan, tradisi lisan, praktik kesenian, dan pengalaman masyarakat juga perlu dirawat agar warisan budaya tetap relevan bagi generasi berikutnya.

“Melestarikan kebudayaan tidak hanya dengan menjaga bentuk, tetapi juga merawat pengetahuan, praktik, dan pengalaman masyarakat,” menjadi pesan utama dalam pemaparannya.
Menurut Didit, teknologi seperti video mapping, hologram, video interaktif, dan instalasi multimedia dapat dimanfaatkan untuk memperkaya penyajian sejarah dan koleksi museum.
Namun, penerapannya perlu didasarkan pada riset agar sesuai dengan karakter koleksi, konteks sejarah, serta kebutuhan masing-masing museum.
Teknologi, lanjutnya, bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan menjadi medium yang memperluas cara masyarakat menikmati dan memahami kebudayaan.
Dalam pertunjukan tari tradisional, misalnya, teknologi dapat digunakan melalui tata cahaya, latar visual, dan unsur multimedia tanpa menghilangkan karakter maupun makna dasar tarian.
Empat Potensi Budaya Malang Raya
Didit mengidentifikasi empat lapisan kebudayaan Malang Raya yang berpotensi dikembangkan melalui seni media baru.
Pertama, sejarah material yang mencakup candi, artefak, dan bangunan bersejarah, termasuk peninggalan kolonial. Kedua, seni pertunjukan, seperti Topeng Malang dan kesenian tradisional lainnya.
Ketiga, tradisi lisan berupa cerita rakyat, legenda, macapat, dan berbagai versi kisah Panji. Keempat, ruang sosial yang meliputi kampung, pasar, kawasan pertanian, pegunungan, hingga lingkungan perkotaan.
Berbagai unsur tersebut dapat menjadi sumber inspirasi karya seni kontemporer yang tetap terhubung dengan sejarah dan kehidupan masyarakat.
Didit juga menekankan pentingnya kolaborasi antara seniman, budayawan, sejarawan, arkeolog, dan akademisi dalam mengembangkan karya berbasis warisan budaya.
Salah satu karyanya, Sorot Canopus, mengangkat visualisasi Candi Badut dan ditampilkan dalam ajang Indonesia Bertutur 2024 di Bali.
Libatkan Delapan Museum

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang, Juli Handayani, menjelaskan pameran bersama delapan museum tersebut berlangsung selama tiga hari dengan melibatkan kelompok peserta yang berbeda.
Pada hari pertama, kegiatan menyasar kepala sekolah negeri di Kota Malang. Hari kedua melibatkan guru IPS dari sekolah negeri, sedangkan hari ketiga menghadirkan seniman dan budayawan.
Menurut Juli, kegiatan tersebut menjadi upaya mendekatkan warisan sejarah dan kebudayaan kepada masyarakat sekaligus memperkuat pemahaman tentang perjalanan peradaban Malang Raya.
Melalui pameran dan pemaparan materi, peserta mendapatkan ruang untuk bertukar gagasan mengenai pelestarian kebudayaan, termasuk pemanfaatan teknologi dalam penyajian sejarah dan kesenian.
Pameran Perjalanan Waktu & Jejak Peradaban Malang Raya diharapkan memperluas cara masyarakat mengenal warisan sejarah, tidak hanya melalui benda koleksi, tetapi juga melalui pengetahuan dan pengalaman budaya yang terus berkembang. (Shin)
