Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
22/02/2026
CITILIVE

Bedug Bukan dari Arab? Ini Asal-Usul Tradisi Bedug dalam Sejarah Islam Nusantara

rifamahmudah
  • Februari 22, 2026
  • 3 min read

POPULER – Setiap Ramadan tiba, suara bedug menggema dari masjid dan musala. Dentumannya menjadi penanda waktu berbuka, sahur, hingga salat Ied. Namun tahukah Anda, tradisi bedug ternyata bukan berasal dari budaya Arab?

Bedug justru lahir dari proses panjang akulturasi Islam dengan budaya lokal Nusantara. Ia menjadi simbol bagaimana Islam berkembang secara damai dan menyatu dengan tradisi masyarakat Indonesia.

Bedug Bukan Tradisi Timur Tengah

Dalam sejarah Islam di Timur Tengah, tidak dikenal penggunaan bedug untuk penanda waktu salat. Di sana, penanda utama adalah azan yang dikumandangkan muazin dari menara masjid.

Bedug sebagai alat komunikasi keagamaan lebih khas Asia Timur dan Asia Tenggara. Alat musik pukul berbentuk tabung besar ini sudah dikenal masyarakat Nusantara bahkan sebelum Islam datang, terutama dalam tradisi Hindu-Buddha.

Saat Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-13, para ulama tidak menghapus budaya lokal yang sudah ada. Sebaliknya, mereka melakukan pendekatan akulturatif.

Strategi Dakwah Wali Songo

Dalam konteks Jawa, penggunaan bedug sering dikaitkan dengan metode dakwah para ulama, termasuk tokoh-tokoh yang dikenal sebagai Wali Songo. Mereka menggunakan pendekatan budaya agar ajaran Islam mudah diterima masyarakat.

Bedug yang sebelumnya digunakan dalam ritual kerajaan atau keagamaan Hindu-Buddha kemudian dialihfungsikan sebagai penanda waktu salat dan kegiatan keislaman.

Pendekatan ini terbukti efektif. Islam berkembang pesat tanpa menimbulkan konflik budaya yang besar.

Dari Kerajaan ke Masjid

Pada masa kerajaan Islam di Jawa, seperti Kesultanan Demak, bedug mulai ditempatkan di kompleks masjid. Salah satu bedug tua yang terkenal adalah bedug di Masjid Agung Demak, yang hingga kini menjadi bagian dari warisan sejarah Islam Nusantara.

Baca Juga:  Jaksa Edukasi Hukum ke Masyarakat Desa

Sejak saat itu, bedug menjadi elemen khas masjid-masjid di Indonesia. Tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga simbol identitas Islam lokal.

Fungsi Bedug di Masa Kini

Hingga sekarang, bedug memiliki beberapa fungsi utama:
• Penanda waktu salat sebelum azan dikumandangkan
• Penanda waktu berbuka puasa dan sahur saat Ramadan
• Penanda Hari Raya Idulfitri dan Iduladha
• Simbol kemeriahan lomba takbir keliling

Meski pengeras suara modern sudah tersedia, bedug tetap dipertahankan karena nilai historis dan kulturalnya.

Simbol Akulturasi Islam Nusantara

Bedug menunjukkan bahwa Islam di Indonesia berkembang dengan pendekatan budaya, bukan penyeragaman. Ia menjadi bukti bahwa ajaran Islam mampu beradaptasi dengan tradisi lokal tanpa kehilangan esensinya.

Di banyak daerah, termasuk di Malang, dentuman bedug saat Magrib pertama Ramadan selalu menghadirkan suasana haru dan nostalgia. Ia bukan sekadar alat musik, melainkan simbol kebersamaan dan warisan sejarah.

Tradisi bedug mengajarkan bahwa identitas Islam Indonesia terbentuk dari dialog panjang antara nilai agama dan budaya Nusantara. Dan hingga hari ini, dentumannya masih menjadi suara yang mengikat umat dalam satu irama keimanan. (Shin)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *