Banjir 39 Titik Jadi Alarm, Pemerintah Kota Malang Perkuat Korve Massal
MALANG, CITILIVE – Peristiwa banjir yang menerjang 39 titik di Kota Malang pada awal Desember 2025 menjadi alarm serius bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Malang dalam pembenahan tata kelola sampah dan drainase. Evaluasi pascakejadian menunjukkan tumpukan sampah menjadi penyebab dominan tersumbatnya aliran air.
Wahyu Hidayat menegaskan, sejak insiden tersebut pihaknya langsung menginstruksikan kerja bakti massal atau korve di seluruh wilayah, mulai tingkat RT, RW, kelurahan hingga kecamatan.
“Dari kejadian itu paling banyak karena sampah. Ada bukti videonya. Kami langsung perintahkan kerja bakti massal,” ujar Wahyu, Jumat (13/2/2026).
Selain persoalan sampah, Pemkot juga menemukan sejumlah bangunan berdiri di atas saluran drainase yang memperparah genangan.
Wahyu menyebut, gerakan kerja bakti sebenarnya telah berjalan sejak akhir 2025, sebelum adanya instruksi Presiden terkait penguatan korve nasional untuk mengatasi over capacity sampah.
Menurutnya, rutinitas kerja bakti tersebut mulai menunjukkan dampak positif saat Kota Malang menghadapi cuaca ekstrem di awal 2026.
“Sekarang ketika ada cuaca ekstrem, aliran air bisa lancar, tidak ada banjir,” imbuhnya.
Penguatan korve di daerah juga sejalan dengan rencana Surat Edaran (SE) dari Tito Karnavian yang akan meminta seluruh pemerintah daerah melaksanakan kerja bakti minimal dua kali sepekan.
Menindaklanjuti hal itu, Pemkot Malang akan menggelar rapat teknis bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk menyusun skema pelaksanaan yang lebih terstruktur. Pelibatan unsur TNI dan Polri juga akan diperluas guna memperkuat pelaksanaan di lapangan.
Wahyu menilai, banjir akhir tahun lalu menjadi momentum perubahan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah.
“Sekarang sudah menjadi kesadaran masyarakat, membuang sampah harus pada tempatnya. Mereka sudah merasakan dampaknya,” pungkasnya. (al)
