Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
03/03/2026
CITILIVE

Asam Lambung Naik Saat Puasa Ramadan? Ini Penjelasan dan Tips Agar Ibadah Tetap Nyaman

Shinta lubis
  • Maret 3, 2026
  • 3 min read
Asam Lambung Naik Saat Puasa Ramadan? Ini Penjelasan dan Tips Agar Ibadah Tetap Nyaman

MALANG, CITILIVE – Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau naiknya asam lambung menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat saat menjalankan ibadah puasa Ramadan. Kondisi ini dapat menimbulkan sensasi perih, mual, bahkan rasa terbakar di dada, terutama saat perut kosong dalam waktu panjang. 

Menurut dokter dan panduan medis, naiknya asam lambung saat puasa terjadi karena produksi asam lambung tetap berjalan meski perut kosong. Tanpa makanan sebagai penyangga, asam tersebut dapat naik ke kerongkongan, menyebabkan gangguan yang dikenal sebagai refluks. 

Penyebab Gejala Asam Lambung Saat Puasa

Asam lambung yang naik biasanya menimbulkan sejumlah gejala seperti:

  • Sensasi panas atau nyeri di ulu hati (heartburn);
  • Mual atau perut tidak nyaman;
  • Perut kembung dan sering bersendawa;
  • Rasa asam atau pahit naik ke mulut (regurgitasi).  

Faktor lain yang dapat memperburuk kondisi ini saat puasa antara lain makanan pedas, berlemak, minuman berkafein atau bersoda, serta tidur langsung setelah makan. 

Strategi Sahur dan Berbuka Yang Aman

Pakar kesehatan menganjurkan beberapa langkah pencegahan yang efektif untuk mencegah kambuhnya asam lambung selama Ramadan, antara lain:

1. Jangan Lewatkan Sahur

Sahur membantu menjaga kestabilan asam di perut. Membiarkan perut kosong terlalu lama dapat memicu naiknya asam lambung saat siang hari. 

2. Pilih Menu yang Ramah Lambung

Konsumsi buah non-asam seperti pisang atau melon, sayuran hijau, karbohidrat kompleks seperti oatmeal dan roti gandum, serta protein rendah lemak seperti ayam tanpa kulit atau tahu dapat membantu mengurangi risiko refluks. 

3. Hindari Makanan Pemicu

Makanan pedas, berlemak tinggi, asam, kafein (kopi, teh), maupun minuman bersoda sebaiknya dihindari saat sahur dan berbuka, karena cenderung merangsang produksi asam lambung. 

Baca Juga:  IBI Kabupaten Malang Soroti Stunting, Kesehatan Rematri, dan Lonjakan Penyakit Jantung pada Peringatan HKN ke-61

4. Porsi Makan Kecil dan Teratur

Makan dalam porsi besar sekaligus saat berbuka dapat membuat lambung bekerja lebih keras, memicu tekanan dan produksi asam berlebih. Disarankan makan perlahan dan dengan porsi kecil terlebih dahulu. 

5. Hidrasi yang Cukup

Minum air putih yang cukup saat sahur dan berbuka dapat membantu menjaga keseimbangan pH lambung serta mencegah dehidrasi yang memicu peningkatan produksi asam. 

Tips Tambahan untuk Mengurangi Risiko Refluks

Selain pola makan, beberapa kebiasaan berikut juga dapat membantu:

  • Jangan langsung tidur setelah makan. Menunggu 2–3 jam setelah sahur atau berbuka sebelum tidur membantu mengurangi risiko asam lambung naik saat berbaring.  
  • Tidur dalam posisi setengah bersandar atau dengan kepala lebih tinggi dapat mencegah asam lambung mengalir ke kerongkongan.  
  • Kelola stres karena stres dapat memperburuk gejala asam lambung naik. Teknik relaksasi seperti meditasi atau olahraga ringan dapat membantu.  

Kapan Harus Konsultasi Dokter

Jika gejala asam lambung sering muncul atau semakin parah meskipun pola makan dan gaya hidup sudah diatur, pakar kesehatan menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam. Dalam beberapa kasus, obat-obatan tertentu mungkin diperlukan agar puasa tetap berjalan nyaman. 

Dengan pengaturan pola makan dan gaya hidup yang tepat, penderita asam lambung tetap bisa menjalankan ibadah puasa Ramadan secara aman dan lebih nyaman tanpa gangguan refluks yang signifikan. 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *