Tarawih, Ibadah Malam yang Menghidupkan Suasana Ramadan
POPULER – Memasuki hari ke-7 Ramadan, suasana masjid di berbagai penjuru kota semakin hidup. Setelah sepekan menjalani puasa, umat Islam mulai menemukan ritme ibadahnya, termasuk dalam menjalankan salat Tarawih, ibadah sunnah yang menjadi ciri khas bulan Ramadan.
Tarawih bukan sekadar salat malam biasa. Ia memiliki sejarah panjang sejak masa Rasulullah SAW dan berkembang menjadi tradisi kolektif yang menghidupkan masjid setiap malam Ramadan.
Apa Itu Tarawih?
Secara bahasa, “tarawih” berasal dari kata Arab raaha yang berarti istirahat. Disebut demikian karena pada masa awal pelaksanaannya, umat Islam beristirahat sejenak setiap selesai empat rakaat.
Salat Tarawih dilakukan setelah salat Isya selama bulan Ramadan. Hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan), baik dikerjakan sendiri maupun berjamaah di masjid.
Sejarah Tarawih di Masa Rasulullah SAW

Dalam sejarah Islam, Rasulullah SAW pernah melaksanakan salat malam Ramadan secara berjamaah di masjid. Namun, beliau tidak melanjutkannya secara rutin karena khawatir umat menganggapnya sebagai kewajiban.
Setelah Rasulullah wafat, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, salat Tarawih kembali dihidupkan secara berjamaah dan ditata lebih rapi. Sejak saat itu, Tarawih menjadi tradisi kolektif umat Islam hingga sekarang.
8 atau 20 Rakaat?
Perbedaan jumlah rakaat Tarawih kerap menjadi perbincangan setiap Ramadan. Ada yang melaksanakan 8 rakaat, ada pula yang 20 rakaat.
Perbedaan ini bersumber dari praktik sejarah dan penafsiran hadis. Namun para ulama sepakat bahwa keduanya sah dan memiliki dasar. Esensi Tarawih bukan pada jumlah rakaatnya, melainkan pada kekhusyukan dan konsistensi ibadahnya.
Tarawih dan Kehidupan Sosial
Di Indonesia, Tarawih menjadi momentum mempererat silaturahmi. Masjid-masjid dipenuhi jamaah, anak-anak mulai belajar disiplin salat berjamaah, dan suasana kampung terasa lebih religius.
Di berbagai daerah termasuk Malang, Tarawih juga menjadi ruang interaksi sosial. Ada kultum (kuliah tujuh menit) sebelum atau sesudah salat, tadarus bersama, hingga agenda santunan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Tradisi ini memperlihatkan bahwa Ramadan bukan hanya ibadah personal, tetapi juga penguatan solidaritas sosial.
Mengapa Tarawih Istimewa?
Ada beberapa alasan mengapa Tarawih begitu istimewa:
• Hanya ada di bulan Ramadan
• Menghidupkan malam dengan ibadah
• Menjadi momentum memperbanyak pahala
• Menguatkan kebersamaan umat
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang melaksanakan qiyam Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Ramadan dan Konsistensi Ibadah
Memasuki hari ke-7 Ramadan, semangat ibadah biasanya mulai diuji. Tarawih menjadi salah satu indikator konsistensi tersebut. Bukan tentang seberapa cepat selesai, tetapi seberapa tulus niat dan fokus dalam beribadah.
Di tengah kesibukan dan kelelahan setelah beraktivitas seharian, langkah menuju masjid pada malam hari menjadi bentuk komitmen spiritual. Tarawih mengajarkan bahwa Ramadan adalah tentang menghidupkan malam, menenangkan hati, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
