Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
19/03/2026
POPULER

Prepekan: Tradisi Jelang Lebaran yang Masih Hidup di Jawa, Ini Makna dan Sejarahnya

rifamahmudah
  • Maret 19, 2026
  • 3 min read
Prepekan: Tradisi Jelang Lebaran yang Masih Hidup di Jawa, Ini Makna dan Sejarahnya

POPULER – Menjelang Hari Raya Idulfitri, masyarakat di sejumlah daerah di Jawa memiliki satu tradisi khas yang masih bertahan hingga kini, yakni prepekan. Tradisi ini biasanya berlangsung beberapa hari sebelum Lebaran dan identik dengan aktivitas belanja kebutuhan hari raya.

Bagi sebagian orang, istilah prepekan mungkin terdengar asing. Namun bagi masyarakat Jawa, khususnya di wilayah seperti Malang dan sekitarnya, prepekan sudah menjadi bagian dari dinamika Ramadan menjelang Idulfitri.

Apa Itu Prepekan?

Secara sederhana, prepekan merujuk pada momen ketika masyarakat mulai memadati pasar untuk membeli berbagai kebutuhan Lebaran. Kata “prepekan” sendiri berasal dari bahasa Jawa, yang merujuk pada waktu mendekati hari besar atau momen penting.

Dalam konteks Lebaran, prepekan biasanya terjadi pada H-7 hingga H-1 Idulfitri. Pada masa ini, aktivitas ekonomi meningkat tajam, terutama di pasar tradisional.

Masyarakat berburu berbagai kebutuhan seperti bahan makanan, kue kering, pakaian baru, hingga perlengkapan ibadah.

Pasar Tradisional Jadi Pusat Keramaian

Saat prepekan berlangsung, pasar tradisional menjadi titik paling ramai. Lonjakan pengunjung terlihat sejak pagi hingga malam hari.

Pedagang pun memanfaatkan momen ini dengan menambah stok barang dagangan. Berbagai produk khas Lebaran mulai bermunculan, seperti ketupat, opor ayam, aneka kue kering, hingga sirup.

Tak hanya itu, pedagang pakaian juga kebanjiran pembeli yang mencari baju baru untuk dikenakan saat Hari Raya.

Fenomena ini menjadi pemandangan tahunan yang selalu terulang menjelang Lebaran, sekaligus menandai semakin dekatnya hari kemenangan.

Tradisi Lama yang Masih Bertahan

Prepekan bukan sekadar aktivitas belanja. Tradisi ini telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa.

Pada masa lalu, prepekan menjadi momen penting bagi keluarga untuk mempersiapkan segala kebutuhan Lebaran secara bersama-sama. Aktivitas ini juga menjadi sarana interaksi sosial, karena masyarakat bertemu dan bertegur sapa di pasar.

Baca Juga:  Perbandingan Jenis Hewan Peliharaan - Anjing Vs Kucing, Mana Yang Lebih Baik?

Meski kini banyak orang beralih ke belanja modern atau online, tradisi prepekan tetap bertahan. Pasar tradisional masih menjadi pilihan utama karena menawarkan harga yang lebih terjangkau serta suasana khas yang tidak bisa digantikan.

Dampak Ekonomi yang Signifikan

Seperti halnya mudik dan parcel, prepekan juga memberikan dampak besar terhadap perputaran ekonomi lokal. Peningkatan transaksi di pasar tradisional menjadi salah satu indikator naiknya daya beli masyarakat menjelang Lebaran.

Banyak pedagang mengaku omzet mereka meningkat signifikan selama periode prepekan. Bahkan, bagi sebagian pelaku usaha, momen ini menjadi waktu panen yang ditunggu setiap tahun.

Selain pedagang, sektor lain seperti transportasi, jasa pengemasan, hingga usaha kuliner juga turut merasakan dampak positif dari tradisi ini.

Lebih dari Sekadar Belanja

Di balik keramaian pasar dan aktivitas ekonomi, prepekan memiliki makna yang lebih dalam. Tradisi ini mencerminkan semangat menyambut Idulfitri dengan penuh persiapan dan kebahagiaan.

Bagi banyak keluarga, prepekan menjadi momen kebersamaan, mulai dari menyusun daftar belanja hingga memilih kebutuhan Lebaran bersama.

Hal ini memperkuat nilai kekeluargaan sekaligus menumbuhkan rasa syukur menjelang hari kemenangan.

Tradisi yang Terus Beradaptasi

Di era modern, prepekan mengalami berbagai penyesuaian. Selain pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan platform digital juga mulai dipadati masyarakat.

Namun demikian, esensi prepekan tetap sama, yaitu mempersiapkan diri menyambut Lebaran dengan penuh suka cita.

Tradisi ini juga menunjukkan bagaimana budaya lokal mampu bertahan di tengah perubahan zaman. Pada akhirnya, prepekan bukan hanya tentang ramainya pasar atau banyaknya belanjaan, tetapi tentang bagaimana masyarakat menyambut Idulfitri dengan kebersamaan, persiapan, dan rasa bahagia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *